Berduka, tentunya dan sudah pasti pernah dialami orang setiap orang.

Berduka merupakan situasi yang sangat menyedihkan yang dialami seseorang setelah kehilangan. Sebagian besar seseorang akan merasa sulit untuk kembali beraktivitas setelah kematian orang terkasih, seperti tidak mau pergi bekerja, tidak ingin bertemu dengan orang lain, hingga kegiatan sederhana seperti terganggunya aktivitas makan dan tidur.
Kenyataannya, orang yang ditinggalkan harus tetap melanjutkan hidup. Agar dapat melanjutkan hidup dengan baik, orang yang ditinggalkan harus bisa menerima, mengalami, dan mengakhiri masa berkabung. Selain itu mereka juga harus bisa mengatur perilaku, pikiran, dan emosi dari keberdukaan.
Reaksi yang dimunculkan individu ketika berduka juga berbeda-beda, namun beberapa reaksi juga bisa muncul seperti reaksi fisik, kognitif, emosional, dan perilaku.
Reaksi fisik
Seperti perubahan nafsu makan, mulut yang kering, lemas, menangis, dan tenggelam dalam perasaan.
Reaksi kognitif
Seperti kaget, menolak untuk percaya bahwa orang terkasih telah tiada, tidak fokus pada pekerjaan, sulit membuat keputusan, dan hanyut dalam sebuah kehilangan.
Reaksi emosional
Seperti kebingungan, sedih, marah, merasa bersalah, cemas, kesepian, hingga berhalusinasi.
Reaksi perilaku
Seperti gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial atau bahkan mobilitas yang berlebihan, mendatangi lokasi yang memiliki kenangan bersama, hingga bertindak tidak rasional.
Selain itu, sebuah studi terkait keberdukaan mengatakan bahwa seseorang yang berduka akan beradaptasi secara fisik, pikiran, dan otak. Bagaimana itu bisa terjadi? Berdasarkan studi tersebut dikatakan bahwa orang yang berduka juga bisa mengalami gangguan kesedihan yang berkepanjangan. Selain itu, pendekatan neuroimaging telah mengamati bahwa dampak terbesar dari kematian orang yang dicintai yaitu memunculkan reaksi duka psikologis yang paling parah.
Kebanyakan orang tidak mempersiapkan diri untuk sebuah kehilangan, lalu ketika dihadapkan dengan kehilangan tersebut, individu akan merasa “dihantam” oleh situasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ketika berada dalam rasa sakit emosional yang mendalam akibat kehilangan, hindari untuk mengurung diri, menghindar dari lingkungan sosial, menyalahkan diri, dan lain sebagainya. Nyatanya, hal itu bisa membuat kita berada pada duka yang lebih lama.
Agar dapat memproses emosi dengan baik ketika berduka, coba lakukan hal ini untuk memahami sebuah kehilangan dan mulai untuk menyembuhkan diri :
1. Beri waktu pada diri
Ketahui bahwa rasa marah, menolak, kecewa, sedih yang dirasakan akibat kehilangan merupakan sebuah proses yang harus dihadapi dan dijalani
2. Bicara dengan orang lain
Habiskan waktu bersama dengan teman dan keluarga. Hindari untuk mengisolasi diri dan menjauhi lingkungan sosial
3. Menjaga diri
Olahraga secara teratur, makan makanan yang sehat, dan tidur cukup agar tetap berenergi dan kesehatan fisik tetap terjaga
4. Kembali ke hobi
Kembali melakukan berbagai aktivitas yang kalian sukai, sehingga bisa membuat merasa bahagia.
5. Bergabung dengan support group
Bicara dan berbagilah mengenai perasaan yang sedang dialami dengan orang lain ketika berduka. Kegiatan ini bisa membuat kalian merasa lebih terhubung satu sama lain, karena mendapat dukungan dari orang-orang yang mengalami kejadian yang sama dengan kalian.
Source :
Kara, E. (2017). A qualitative research on university students’ religious approaches during the grieving process. Spiritual Psychology and Counseling, 2, 203–223. http://dx.doi.org/10.12738/spc.2017.2.0029
Mary-Frances O’Connor.(2019). Grief: A Brief History of Research on How Body, Mind, and Brain Adapt. Psychosom Med. 2019 October ; 81(8): 731–738, Department of Psychology, University of Arizona, Tucson, AZ, USA.
https://www.webmd.com/balance/normal-grieving-and-stages-of-grief#2
Commentaires